Kisah Inspiratif Tukang Sofa Naik Haji

Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, adalah mimpi setiap ummat Islam. Tak terkecuali juga bagi Misjan, pria berusia 62 tahun yang sehari – hari berprofesi sebagai tukang reparasi sofa.

Sejujurnya, Misjan merasa sangat terharu bisa menunaikan ibadah haji. Di balik wajahnya yang tampak tegar, sesekali terlihat air muka yang berkaca – kaca. Ia tak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dirinya karena telah dipanggil untuk bertamu di rumah Allah.

Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Misjan yang bekerja sebagai tukang reperasi sofa untuk mendaftarkan diri berangkat haji. Pendapatannya yang tidak menentu., membuat ia harus menabung hampir puluhan tahun untuk bisa mengumpulkan dana sebagai uang muka pendaftaran haji.

“Saya memang sudah sejak lama ingin berhaji bersama istri. Untuk mewujudkan keinginan itu, saya mulai menabung sedikit demi sedikit dari tahun 80-an, tepatnya setelah kelima anak saya menyelesaikan pendidikan mereka. Setelah beberapa waktu, tabungan saya pun mulai terkumpul dan Alhamdulillah akhirnya saya bisa daftar haji.” Ungkapnya penuh haru.

Misjan termasuk salah satu rombongan haji d embarkasi Jakarta kloter ke 10. Ia mendaftar haji pada tahun 2009 dan menerima kejutan dengan mendapat jadwal keberangkatan satu tahun lebih cepat dari yang seharusnya. “Tiba-tiba ada petugas datang kerumah memberitahu jadwal keberangkatan haji dipercepat satu tahun. Saya bersyukur ini merupakan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada saya.” Kata ayah lima anak ini.

Saat petugas Kementerian Agama datang memberitahu jadwal keberangkatan haji, Misjan sempat bingung karena masih ada tanggungan sebesar 8 juta rupiah yang harus segera ia lunasi. “Alhamdulillah, kalau Allah sudah memanggil semuanya menjadi mudah. Saya kembali mendapatkan pertolongan Allah untuk melunasi kekurangan biaya tersebut.” Ungkap pria asal Kemayoran ini. syukur tak henti-hentinya ia ungkapkan atas kemudahan yang didapatkan dalam proses pendaftaran haji. Ia hanya percaya satu hal, jika sungguh-sungguh dan ikhlas semuanya akan berjalan dengan lancer.

Tiga bulan sebelum keberangkatan hati, Misjan benar-benar focus mempersiapkan fisik dan mentalnya. Ia sengaja tidak bekerja selama tiga bulan demi fisiknya tetap prima ketika di Tanah Suci. “Kalau ada yang minta benerin sofa, saya sedang focus urusan lain. Saya Cuma ingin mempersiapkan fisik biar kuat,” ujarnya. Di Tanah Suci nanti, Misjan ingin menghabiskan waktunya untuk beribadah. Ia sengaja tank ingin membawa handphone agar konsentrasi ibadahnya tidak terganggu.

1 thought on “Kisah Inspiratif Tukang Sofa Naik Haji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares