Sejarah Mushaf

Setelah Wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, Al-Quran hanya berada di dada kaum muslimin, ada juga yang ditulis di pelepah daun kurma, batu putih yang tipis dan lain-lain.

selama pemerintahan Utsman bin Affan, Islam sibuk melibatkan diri di Medan jihad yang membawa Islam hingga ke berbagai pelosok yang berbeda-beda. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur Islam memiliki dialek yang berlainan. Sebagai akibat adanya perbedaan penyebutan huruf dalam Alquran menyebabkan mulai nampaklah kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

Hudaifa bin al-yaman pergi menemui Usman setelah ia melihat perbedaan dikalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca al-quran kepada khalifah, dia menasehati, “Ambilah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.

Adanya perbedaan dalam bacaan Al Qur’an  ini sebenarnya  bukan barang baru. Bahkan Umar sudah mengantisipasi hal ini sejak zaman pemerintahannya. Awalnya ia Ibn Mas’ud ke Irak, setalah itu umar dilapori bahwa Ibnu Mas’ud mengajarkan Al-Quran dengan dialek Hudhail (dialeknya Ibnu Mas’ud) yang membuat Umar tidak menyukainya, Al Quran diturunkan dalam aksen Quraish, maka haruslah diajarkan dengan aksen Quraish bukan menggunakan aksen Hudhail. Untuk hal satu ini Komentar Ibn Hajar sangatlah penting. Bagi umat Islam, pilihan aksen yang tepat adalah aksen Quraish lah yang sangat tepat

Mungkin tidak setiap muslim tahu bahwa Alquran yang banyak dibaca saat ini dulunya adalah berasal dari ayat-ayat Al-Quran yang berserakan. namun akhirnya lembaran ayat berserakan tersebut dikumpulkan menjadi satu buku mushaf pada masa Khalifah Usman bin Affan sehingga kemudian disebut Mushaf Utsmani.

pada masa kekuasaan khalifah Utsman bin Affan ini mushaf menjadi gundul tidak berharakat atau tidak terdapat tanda baca. Untuk menghindarkan salah baca, ahli bahasa bernama Abu Al-Aswad Zalim bin Sufyan Ad-Dhu’ali merumuskan tanda harakat dan titik, atas perintah khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Menyamakan Aksen

seperti ditulis di bagian awal artikel ini, orang yang mula-mula menaruh perhatian terhadap kemungkinan pertikaian yang terjadi di kalangan masyarakat Islam dalam hal bacaan Alquran adalah Huzaifah bin Yaman. Seorang sahabat Rasulullah yang terkenal karena kecerdasan dan cepat tanggap terhadap suatu kondisi.

Dari kekhawatiran huzaifah inilah Khalifah Utsman segera bertindak dengan meminta kumpulan naskah Alquran yang disimpan Hafsah binti Umar, yaitu kumpulan ayat-ayat yang masih berserakan pada berbagai media pada zaman pemerintahan Abu Bakar. Beliau kemudian membentuk suatu tim beranggotakan Zaid Bin Tsabit, Abdullah bin Zubair serta Abdurrahman bin Haris. tugas yang harus dilaksanakan adalah membukukan lembaran-lembaran lepas tersebut dengan menyalin ulang ayat-ayat Al-Quran ke dalam sebuah buku yang disebut mushaf.

Terdapat dua riwayat tentang bagaimana Usman melakukan tugas ini. Satu diantaranya adalah beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada suhuf (lembaran-lembaran) yang disimpan di bawah penjagaan Hafsah bekas istri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan bahwa Usman mempercayakan pada dua belas orang sahabat untuk mengurusi tugas pembukuan ini dengan mengumpulkan dan menabulasikan Alquran yang ditulis di atas kertas kulit pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sejarawan Ibn `Asakir menyertakan instruksi Usman di riwayat versi kedua ini: “ orang-orang yang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa sja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad SAW hendaklah diserahkan kepadaku.” Maka orang-orangpun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit, dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula mula akan ditanya oleh Usman “apakah kamu belajar ayat-ayat ini seperti (dibacakan) langsung dari dari Nabi sendiri?” semua penyumbang menjawab disertai sumpah dan semua bahan yang dikumpulkan  telah diberi tanda atau nama satu persatu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit. Kedua versi riwayat ini sepaham bahwa suhuf yang ada pada hafsah memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf Usmani.

dalam pelaksanaannya, Khalifah Utsman menginstruksikan agar penyaringan tersebut harus berpedoman kepada bacaan mereka yang menghafalkan Alquran. Seandainya terdapat perbedaan dalam pembacaan, maka yang dituliskan adalah yang berdialek Quraisy karena Alquran diturunkan dalam bahasa Quraisy. Bahasa yang digunakan oleh Rasulullah, bahasa yang paling tinggi kedudukan tata bahasanya.

Disebar ke seluruh Negeri Islam

Salinan kumpulan Al-qur’an yang dikenal dengan nama Al Mushaf ini kemudian oleh panitia tersebut diperbanyak sejumlah 5 buah. empat naskah dibawa ke Mekah, Suriah, Basrah dan kufah sementara, satu naskah lagi tetap berada di Madinah yang disebut mushaf Al-Imam.

sebagaimana tujuan awal pengumpulan Al-quran tersebut yaitu untuk mempersatukan semua umat Islam yang sempat terpecah belah karena adanya perbedaan dalam pembacaan Al-Quran. Sejak saat itu juga umat Nabi Muhammad SAW bersatu di atas satu Mushaf Utsmani. Mushaf yang di rumuskan dengan nukilan yang Mutawatir sehingga tidak ada perbedaan atau perselisihan sedikitpun dalam nukilan tersebut. Mushaf Al-Quran yang disebut sebagai Mushaf Utsmani akan tetap terpelihara di atas pemeliharaan Allah sampai hari kiamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares