Siapa Sebenarnya Tuhanmu?

Siapa sebenarnya tuhanmu ?

“who is god?”

Sebuah pertanyaan sederhana. Namun, itu adalah sebuah pertanyaan yang membawa perubahan besar dalam hidup saya. Sebuah pertanyaan yang menjadi pintu masuk hidayah Allah bagi saya. Kurang lebih satu tahun lalu, pertanyaan itu berkecambuk di hati dan membuat saya ingin mencari keberadaan tuhan pencipta langit dan bumi tuhan yang universal.

Terlahir dari keluarga penganut Kristen yang taat, awalnya saya percaya saja bahwa yesus adalah sosok Allah pencipta langit dan bumi. Dialah sang Alfa dan Omega. Dialah tuhan dari segala. Namun selama 27 tahun memeluk kristiani, saya tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Seiring berjalannya waktu, pertanyaan itu menuntun saya menemukan beberapa kelemahan dalam Al-Kitab. Saya juga menemukan adanya kelemahan dalam konsep kebutuhan agama Kristen. Mereka mempercayai Trinitas yaitu Bapa, anak dan roh kudus.

Jadi, sebenarnya Yesus sendiri pun bersyahadat. Nabi isa pun mengatakan tentang tauhid, mengajarkan monoteisme, mengajarkan bahwa sebenarnya Allah itu satu, Esa.

Demi mendapatkan jadwal dari pertanyaan tersebut, saya menarik diri dan tidak memihak pada agama mana pun. Dalam trinitas Kristen itu Bapa, Anak dan roh kudus posisinya setara. Mereka mengklaim bahwa Tuhan mereka esa tapi memiliki tiga kepribadian. Kepribadian sebagai Bapa, sebagai anak dan sebagai roh kudus. Pertanyaan yang tidak bisa saya temukan jawabannya di sini adalah bahwa Yesus dan isa itu berdaging, bertulang, berbicara dan makan layaknya manusia. Apa yang ada di dalam konteks trinitas bahwa Bapa, anak dan roh kudus itu setara juga tidak bisa di jadikan setara.

Saya tidak bisa menemukan kecocokan antara Yesus dan roh, Yesus dengan Bapa dan Yesus dengan anak. Jika Bapa tidak terlihat kenapa Yesus terlihat? Yesus makan kenapa Bapa tidak? Kenapa Roh tidak makan? Apakah Roh makan? Satu hal lagi yang tidak bisa saya terima adalah mereka menganggapi bahwa yesus adalah firman Allah yang menjadi manusia dan disetarakan dengan tuhan sehingga mereka pun menyembah Yesus.

Temuan-temuan tersebut saya bandingkan dengan apa yang ada dalam Islam. Dalam Alquran surah Al-madinah ayat 73 menyebutkan, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga,’padahal yang Esa..” ini tentu sangat berbeda dari apa yang saya temukan dalam Kristen.

Kemudian dalam islam, yang tertinggi adalah Allah, sementara firman Allah adalah Alquran. Allah dan firman Allah ini bukan sesuatu yang sama. Jadi Allah adalah dzat yang hag dan tidak ada yang menyamai. Dari sinilah iman saya mulai goyah.

Waktu itu jam 3 pagi ketika saya serius membandingkan antara Kristen dan Islam. Saat itu ayah masih berdoa masih pakai cara Kristen tapi malah jawaban saya dapatkan adalah hidayah Islam. Saya menemukan Allah adalah Esa dan tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamainya. Bukan hanya lewat kitab-kitab karangan, tapi jelas tercantum di Alquran dan bisa diterima akal serta ilmu pengetahuan. Bahwa Allah telah menunjukkan bagaimana proses penciptaan manusia dan alam raya.

Setalah itu, saya mulai terbuka untuk islam. Mulai timbuk terbuka untuk Islam. Mulai timbul keinginan untuk mengerjakan sholat dan juga ingin mengetahui benarkah islam itu rahmatan lilalamin.

Suatu hari, saat saya sedang di rumah seorang diri, saya memutuskan untuk mencoba mengerjakan sholat meskipun saat itu bacaan yang saya bisa baru Al Fatihah saja. Saat takbir saya merasa, alhamdulilla  akhirnya saya mengenal islam. Dan pada saat saya bersujud di situlah saya merasakan hidaya itu benar-benar datang. Dalam agama manapun tidak ada yang menitik beratkan posisi manusia di titik paling rendah di hadapan Allah. Masih dalam posisi sujud, saya merasa ada sebentuk kekuatan yang berkata bahwa tanpa Allah manusia hanyalah manusia lemah yang tidak bisa apa-apa. Kejadian tersebut menjadi titik balik saya hingga menjadi pemeluk islam yang taat sampai saat ini.

Keputusan saya menjadi mualaf membutuhkan pengeorbanan yang tidak sedikit. Keluarga saya shock ketika tahu bahwa saya telah menjadi mualaf. Saya, anak laki-laki satu satunya yang diharapkan menjadi penerus usaha ayah. Mantan ketua remaja gereja se-Surabaya itu kini malah memeluk agama islam.

Kini, saya tidak lagi berhak meneruskan usaha ayah dan akhirnya diasingkan juga dari keluarga. beruntung mertua dengan senang hati mau menerima saya. Sudah hampir satu tahun ibu tidak mau bertamu dengan saya. Sampai saat ini hampir setiap hari minggu juga masih sering debat dengan ayah masalah agama. Saya berusaha menerima tekanan tersebut dengan ikhlas. Saat sholat saya sering berdoa,”Ya allah, jika ini memang harga yang harus saya bayar, akan kuberikan segalanya untukmu.”

Alhamdulillah, hari-hari ini selain terus belajar agama islam, saya juga terlibat dalam kegiatan dakwah bersama para ustadz. Mohon doa dari semuanya agar saya terus dapat istiqamah di jalan yang Haq ini dan semoga niat baik ini diberi kemudahan oleh Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares